Archive for November, 2008
G-SPOT
OLeh : Hendra Arif Wibowo, SKM
G-spot (atau titik Grafenberg) adalah daerah sebesar uang logam yang teramat sensitif dan terletak di bawah permukaan liang vagina yang menghadap ke arah depan tubuh. Meskipun lokasinya berbeda-beda, G-spot biasanya terletak di tengah antara tulang pinggul dan serviks, sekitar 4,5 sentimeter ke dalam vagina. Para peneliti telah menemukan bahwa pada beberapa wanita rasa sensitifnya lebih banyak sepanjang dinding vagina bagian atas, dan tidak hanya pada satu titik.
Karena G-spot berada dibawah permukaan dinding vagina, maka harus dirangsang secara tidak langsung melalui dinding vagina. Banyak wanita dikabarkan merasa ingin mengeluarkan air seni ketika titik ini pertama kali dirangsang, namun ketika rangsangan dilanjutkan (dengan kantung kemih yang kosong), rasanya sangat nikmat. Beberapa dari mereka malahan mencapai orgasme, dan ada juga yang mengeluarkan cairan seiring dengan kontraksi orgasmik tadi.
Namun keberadaan G-spot serta lokasinya, telah banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi. Grafenberg sendiri menunjuk daerah sensitif ini sebagai titik di mana uretra (saluran yang menyalurkan air seni dari kantung kemih) berada paling dekat dengan puncak dinding vagina. Perry dan Whipple bersikeras bahwa daerah ini terletak lebih tinggi lagi sepanjang vagina, sementara ahli seksologi lainnya berkata bahwa seluruh dinding luar vagina, dan bukannya hanya satu titik, berisi ujung-ujung syaraf yang mampu menghasilkan efek rangsangan hebat ketika dirangsang (stimulasi). Penelitian lainnya menunjukkan bahwa untuk beberapa wanita, G-spot sama sekali tidak ada.
Juga yang masih diperdebatkan adalah komposisi cairan (kadang disebut hasil ejakulasi wanita) yang dikeluarkan oleh beberapa wanita selama orgasme akibat rangsangan G-spot. Menurut beberapa peneliti cairan itu adalah urin; lainnya mengatakan bahwa itu adalah unsur yang mirip dengan cairan dalam air mani laki-laki (tanpa sperma, tentunya). Tidak semua wanita yang memiliki G-spot mengeluarkan cairan, dan dari beberapa wanita yang mengeluarkan, tidak selalu keluar bersama setiap orgasme G-spot. Berikut gambar dari G-SPOT : (lagi…)
13 comments November 26, 2008
DOWNLOAD PCMAV 1.9

Seperti Biasa PCMedia selalu mengupdate antivirusnya setiap Bulan, kali ini terbitan edisi Desember terlalu cepat diterima, dan untuk antivirusnya pun telah dilakukan pembaruan, yaitu PCMAV1.9, dan saya akan share melalui ziddu.com,
Beberapa pembuat virus lokal masih mengeksplorasi lebih jauh kemampuan dari bahasa VBScript. Kali ini, mereka membuat virus BUNGAS.VBS yang menyembunyikan desciprtornya.
Virus ini akan mengcopy-kan dirinya ke Flashdisk dengan menggunakan nama random yang menggunakan kombinasi Tanggal+Bulan+Tahun, misalkan 29222008.vbs, selanjutnya ia membuat file autorun.inf untuk mempermudah virus menyebarkan diri mengakses drive yang dituju.
Pada virus ini biasanya bila kita mengklik kanan flashdisk yang terinfeksi bernama Autoply. makan desain autorun-nya mengaktifkan/menyebarkan virus dan akan aktif.
PCMedia Desember 2008 menyertakan antivirus PCMAV-1.9 terbaru yang sudah dapat mendeteksi dan membasmi virus Bunga.vbs. Untuk hasil maksimal, scan seluruh harddisk di komputer anda termasuk flashdisk yang dimiliki.
APA YANG BARU?
————–
a.Ditambahkan, database pengenal dan pembersih 95 virus
lokal/asing/varian baru yang dilaporkan menyebar di Indonesia.
Total 2254 virus beserta variannya yang banyak beredar di
Indonesia telah dikenal di versi 1.9 ini oleh engine internal PCMAV.
b.Ditambahkan, cleaner khusus untuk virus Bungas.vbs.
c.Diperbaiki, kesalahan deteksi (false alarm) heuristik pada beberapa
program dan script.
d.Diperbarui, perubahan beberapa nama virus mengikuti varian baru yang
ditemukan.
e.Perbaikan beberapa minor bug dan improvisasi kode internal untuk
memastikan bahwa PCMAV Cleaner & PCMAV RealTime Protector lebih
dari sekadar antivirus biasa.
Silahkan download disini untuk pcmav 1.9 terbaru atau disini
Add comment November 13, 2008
DOWNLOAD PCMAV 1.8

Bersamaan dengan terbitnya majalah PC Media edisi 11/2008, PC Media Antivirus kembali dirilis versi barunya. Pada rilis kali ini, PCMAV 1.8 mampu mengenali dan mengatasi 2.254 virus beserta variannya yang banyak dilaporkan menyebar di Indonesia.
APA YANG BARU?
————–
a.Ditambahkan, database pengenal dan pembersih 73 virus
lokal/asing/varian baru yang dilaporkan menyebar di Indonesia.
Total 2254 virus beserta variannya yang banyak beredar di
Indonesia telah dikenal di versi 1.8 ini oleh engine internal PCMAV.
b.Ditambahkan, cleaner khusus untuk virus Tiara-Alimah yang dapat
menginfeksi file .DOC.
c.Ditambahkan, cleaner khusus untuk virus Virgear.
d.Diperbaiki, kesalahan deteksi (false alarm) heuristik pada beberapa
program dan script.
e.Diperbarui, perubahan beberapa nama virus mengikuti varian baru yang
ditemukan.
f.Perbaikan beberapa minor bug dan improvisasi kode internal untuk
memastikan bahwa PCMAV Cleaner & PCMAV RealTime Protector lebih
dari sekadar antivirus biasa.
AREA DOWNLOAD
Dapat di klik disini
Copyright:
Majalah PC Media
Virus Indonesia.com
Add comment November 10, 2008
PERANGI SAMPAH ! JADIKAN KONSEP 3 R (Reduce,Reuse ,Recycling) SEBAGAI KAMPANYE NASIONAL
Disadari atau tidak, kita sebagai manusia (anak-anak hingga dewasa) tentunya memiliki aktifitas, baik itu di rumah, sekolah maupun di tempat kerja. Akibat aktifitas tersebut seringkali kitak tidak menyadari bahwa setiap hari kita menghasilkan sampah. Dan dari penelitian terbukti bahwa manusia yang tinggal diperkotaan menghasilkan sampah lebih banyak daripada manusia yang tinggal di perdesaan.
Hal ini diperkuat dengan adanya fakta bahwa saat ini hampir semua Pemerintah kota besar di Indonesia sedang mengalami kesulitan dalam pengelolaan sampah yang dihasilkan oleh warga kotanya.
Sebagai contoh dapat dibayangkan produksi sampah yang dihasilkan oleh dua kota besar di Indonesia yaitu Jakarta dan Bandung. Setiap hari Jakarta menghasilkan sampah (rumah tangga dan industri) sebanyak 25.687 m³. Apabila diasumsikan tinggi timbulan sampah setinggi 4 – 5 m maka jumlah tersebut ekuivalen dengan kebutuhan luasan lahan 5.000 m2 hingga 6.500 m2 untuk menampungnya. Sedangkan kota Bandung, memproduksi sampah sebanyak 7.500 m³, sehingga dibutuhan luasan lahan 1.500 m2 hingga 1.900 m2 untuk menampungnya. Dengan gambaran ini maka patutlah kita bertanya kepada diri kita masing-masing : relakah kita menjadikan lahan terbuka yang semakin langka di sekitar lingkungan tinggal kita, hanya untuk menimbun sampah? Lalu dimana anak cucu kita nanti akan bermain?
Masalah sampah ini jelas
memusingkan para pejabat yang bertanggung jawab untuk mengatasi dan mengelolanya. Pemerintah Jakarta telah membangun berbagai fasilitas untuk mengurangi beban tekanan yang timbul akibat pengelolaan masalah sampah, misalnya dengan membangun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Bantar Gebang, Pengolahan antara di Cakung sampai membangun fasilitas pengolahan yang modern di Bojong yang semuanya akhirnya bermasalah. Sedangkan Pemerintah kota Bandung juga mengalami hal yang serupa dengan fasilitas TPA nya yaitu di Leuwigajah, Cimahi yang ditutup karena longsor; di Pasir Impun; Jelekong dan Cicabe yang tidak dapat dipakai lagi karena warga menolak perpanjangan kontraknya. Akibatnya bisa diduga, kota Bandung menjadi lautan sampah. Masyarakatpun menjerit sambil menutup hidung. Namun sebagai warga kota, bijakkah kita bila menimpakan tanggung jawab pengelolaan sampah ini hanya kepundak Pemerintah? Tentu saja tidak. Karena itu mari kita lihat upaya-upaya yang dapat dilakukan bersama antara masyarakat dan Pemerintah. Sampai saat ini paradigma yang dipakai oleh Pemerintah dalam hal pengelolaan sampah, umumnya masih sangat konvensional/kuno yaitu : kumpul; angkut dan buang. Paradigma ini dapat terimplementasikan dalam teknologi konvensional dalam pengendalian sampah, yang dikenal dengan Sanitary Landfill. Teknis sanitary landfill yaitu digali lubang luas sedalam kurang lebih 15-20 meter, dan kemudian dilapisi geoplastic agar sampah tidak merembes kedalam tanah dan menyebar kebagian lain, serta dibagian bawahnya diberi saluran air agar cairan yang timbul dari sampah bisa dikendalikan. Sampah kemudian dimasukan kedalam lubang setinggi 1,5-2 meter kemudian dilapisi tanah dengan ketinggian yang sama. Demikian seterusnya berlapis dan selang seling antara tanah dan sampah hingga mencapai ketinggian tertentu. Selanjutnya jika ketinggian telah mencapai tinggi yang optimum (sekitar 15 meter) maka daerah tersebut dibiarkan selama beberapa tahun hingga mencapai suatu waktu yang aman sehingga permukaan lahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain. Dalam kasus kota Jakarta dan Bandung, TPA yang dikelola Pemerintah tidak menggunakan system ini, namun timbulan sampah dibiarkan terbuka, sehingga menimbulkan berbagai masalah bagi masyarakat yang tinggal disekitar TPA tersebut.
Metode landfill maupun TPA membawa konsekuensi akan kebutuhan lahan penampungan yang makin meluas, yang tidak mungkin diakomodasikan oleh lahan perkotaan yang makin sempit dan mahal. Oleh karena itu Pengelolaan sampah dengan metode : kumpul, angkut dan buang seperti ini perlu diimbangi dengan metode lain yang terpadu, efektif dan berdaya guna agar daya dukung pemanfaatan lahan diperkotaan dapat meningkat kembali baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Dalam hal pengelolaan sampah maka Departemen Pekerjaan Umum sebagai lembaga instansi teknis, dengan tanggung jawab utamanya sebagai penyedia prasana dan sarana umum di perkotaan dan perdesaan telah melihat adanya kebutuhan metode-metode baru untuk mencari solusi atas masalah pengelolaan sampah ini. Karena itu sudah sejak bertahun tahun yang lalu departemen ini telah memprakarsai sebuah gagasan pengelolaan sampah yang dikenal dengan KONSEP 3 R, yaitu REDUCE (mengurangi volume), REUSE (menggunakan kembali) dan RECYCLE (mendaur ulang).
Konsep 3 R ini tidak dimaksudkan untuk merubah secara total metode konvensional yang telah dilakukan oleh Pemerintah, namun bersifat melengkapi atau menyempurnakannya sehingga diperoleh hasil yang optimal. Dengan kombinasi konsep 3 R ini maka paradigma pengelolaan sampah dapat berkembang menjadi : 1) minimalkan; 2)kumpulkan; 3) pilah-pilah; 4) olah; 5) angkut dan buang sisanya. Langkah 1),3) dan 4) merupakan implementasi dari konsep 3 R , sedangkan langkah 2) dan 5) merupakan implementasi dari konsep lama.
Secara ringkas ke 5 langkah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: Langkah 1) minimalkan (reduce). Pada tahap inilah peran serta masyarakat perlu ditingkatkan karena dari sinilah produksi sampah dimulai. Masyarakat perlu dimotivasi untuk meminimalkan sampah dengan cara mengkonsumsi produk-produk yang ramah lingkungan, kemasan isi ulang atau pemakaian perabot yang bukan sekali buang, membawa tas belanjaan dari rumah dan tindakan-tindakan kecil lain namun dalam jangka panjang dapat memberi manfaat nyata. Sedangkan pihak penjual/pengusaha pasar swalayan atau mall dapat dimotivasi untuk membuat kemasan belanja dari bahan organic atau daur ulang, dan sebagai insentif pemerintah dapat memberikan potongan pajak. Langkah 2) kumpulkan dan dibarengi dengan langkah 3) pilah-pilah. Masyarakat perlu diberi penyuluhan untuk tertib dalam mewadahi sampahnya dalam dua wadah yang berbeda antara sampah organic dan non organic. Pemerintah bisa memfasilitasinya dengan penjualan wadah-wadah sampah murah yang kualitas konstruksinya memenuhi standar. Selanjutnya masyarakat dapat mengumpulkan sampah dirumahnya sendiri atau dikumpulkan ke TPS kecil terdekat untuk diolah lebih lanjut.Langkah 4) Olah (Reuse dan Recycling). Pemerintah dalam tindakan ini harus memberi penyuluhan tentang beberapa jenis cara pengolahan sampah tepat guna, yaitu mudah dan murah. Pengolahan sampah organic menjadi kompos dengan skala kecil hingga menengah dapat diperkenalkan melalui perkumpulan PKK maupun arisan yang umumnya ada di tiap lingkungan permukiman. Untuk sampah non organic seperti plastic, gelas, kartun, kertas, kaleng, dapat dikumpulkan kemudian didaur ulang menjadi benda-benda lain yang bermanfaat oleh penduduk setempat atau dikirim ke pabrik pengolahan atau ke pabrik asal/produsen untuk digunakan kembali. Pemerintah perlu memfasilitasi terbentuknya organisasi atau perorangan yang bertindak sebagai pengumpul (asosiasi pemulung, misalnya) disertai dengan fasilitas penunjangnya.
Sebagai contoh kasus, di negara-negara maju seperti di Amerika Serikat kampanye untuk menyadarkan masyarakat agar terlibat secara aktif dalam pengelolaan sampah, dilakukan secara kontinyu melalui berbagai media, yaitu sekolahan, televisi dan koran-koran. Dengan langkah ini maka tidak mengherankan jika masalah pengelolaan sampah telah menjadi bagian kesadaran yang wajib dimiliki setiap warga negaranya. Tindakan kampanye tersebut ditindak lanjuti oleh Pemerintah setempat dengan langkah kongkrit yaitu menempatkan unit-unit mobil pengumpulan sampah recycling diberbagai permukiman dan pusat-pusat perbelanjaan seperti supermarket dan mall. Unit-unit mobil pengumpulan sampah recycling tersebut dilengkapi dengan alat pemroses sampah kemasan kaleng dan sampah kemasan plastik, sedangkan wadah-wadah atau kemasan yang dapat dipakai ulang akan dikumpulkan sesuai dengan merk – nya masing masing. Selanjutnya sampah ini kemudian dikirimkan ke pabrik asalnya untuk digunakan kembali (re-use).Dan untuk menjamin agar system ini dapat berkelanjutan maka pemerintah menerapkan system insentif kepada dua pihak. Pihak pertama yaitu setiap orang yang menyerahkan sampah ke unit mobil tersebut diberi imbalan (walaupun nilainya kecil sekedar pengganti transport atau 1 cup es krim) sesuai dengan jumlah sampahnya. Biasanya orang tua sering menugaskan anaknya untuk melakukan tugas ini sehingga mereka mendapatkan tambahan uang jajan. Pihak kedua yaitu perseorangan yang mau menjadi pengelola diberikan kemudahan berupa kredit lunak untuk pembelian unit-unit mobil tersebut, bahkan pada beberapa tempat pemerintah lokal memberikannya secara cuma-cuma.
Implementasi dari langkah pengolahan (Reuse dan Recycling) berbasis masyarakat ini terbukti efektif seperti contoh yang telah dilakukan dibeberapa tempat di Jakarta, Tangerang, dan Surabaya. Di Jakarta, contoh sukses ada di Banjarsari, kelurahan Cilandak, Jakarta Selatan yang sudah meraih penghargaan dari UNDP. Berdekatan dengan Jakarta, kota Tangerang juga memiliki kawasan percontohan yaitu di Kompleks Perumahan Mustika Tiga Raksa sedangkan untuk kota Surabaya ada di kelurahan Jambangan . Hasil nyata yang diperlihatkan 3 tempat percontohan tersebut cukup berarti, yaitu sampah yang mampu diolah sekitar 60% , sehingga sisa yang dibuang ke TPA tinggal 40 % saja. Dengan demikian usia daya tampung TPA dapat diperpanjang. Langkah 5) Angkut dan buang sisanya. Dalam keseluruhan proses pengelolaan sampah, meskipun 4 langkah sebelumnya telah ditempuh, namun tetap tidak dapat dihindarkan adanya sisa-sisa sampah yaitu sekitar 40 % yang harus ditampung di TPA. Pada tahap akhir inilah, tanggung jawab pengolahan sampah ada pada pemerintah sepenuhnya karena pada tahap ini diperlukan teknologi canggih.
Sebagai contoh Negara yang berhasil dalam pengolahan sampah dengan teknologi canggih adalah Rusia. Russia dinilai sebagai salah satu negara yang berhasil mengelola sampah untuk diproses menjadi berbagai keperluan. Teknologinya merupakan kombinasi dari teknologi mekanis, kimia dan teknologi radio-isotop. Russia berhasil mengolah sampah menjadi bahan-bahan yang bermanfaat hingga mencapai angka diatas 95% dari sampah yang masuk ke mesin pengolah, tentunya ini merupakan prestasi yang luar biasa.
Hingga saat ini di Indonesia beban tanggung-jawab pengelolaan sampah masih harus dipikul oleh Pemerintah Daerah sendiri, dan masyarakat belum terlibat secara langsung dalam siklus pengendalian sampah. Oleh karena itu kombinasi antara penggunaan teknologi modern dan meningkatkan kesadaran masyarakat adalah kunci keberhasilan pengendalian sampah di Indonesia khususnya di kota-kota besar seperti kota Jakarta dan Bandung yang kepadatan penduduknya sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan.
Dengan ulasan tentang konsep 3 R dan contoh-contoh kegagalan serta keberhasilan yang telah dipaparkan diatas, dalam rangka untuk menjadikan kota-kota besar di Indonesia sebagai kota yang tetap layak huni pada masa akan datang maka menjadikan KONSEP 3 R ( REDUCE, REUSE, RECYCLING) sebagai kampanye Nasional mutlak diperlukan.Departemen PU. sebagai penggagas awal dari KONSEP 3 R ini tentu saja tidak dapat bertindak sendirian namun dapat bertindak sebagai koordinator untuk mensinergikan sektor-sektor lain dalam rangka mensukseskan kampanye ini.
Berikut ini adalah indikasi rencana tindak yang dapat dilaksanakan dengan melibatkan sektor lain.
Memfasilitasi terbentuknya forum-forum dialog masalah persampahan.Dengan adanya rencana tindak konkrit yang dapat dilaksanakan secara bertahap ini, maka diharapkan terjadi peningkatan “signifikan” atas kualitas pengelolaan sampah di kawasan perkotaan di Seluruh Indonesia pada masa yang akan datang.( Pustra, KK, 040706)
Merancang materi/substansi kampanye konsep 3 R, berbasis multi media (audio & visual) bekerja sama dengan Meneg-kominfo maupun Meneg-KLH.
Mensosialisasikan dan mendistribusikan materi/substansi konsep 3 R bekerja sama dengan Meneg-kominfo dan Meneg-Pemberdayaan Perempuan.
Melaksanakan penyuluhan ke titik-titik penghasil sampah, baik rumah tangga maupun industri serta pasar dan pertokoan. Kegiatan ini dapat bekerjasama dengan Meneg-kominfo dan Meneg-Pemberdayaan Perempuan.
Melaksanakan penyuluhan ke sekolah-sekolah bekerjasama dengan Meneg-kominfo dan Dep.Pendidikan Nasional.
Memberikan bantuan fisik berupa fasilitas pewadahan dan tempat pengolahan skala kecil/ rumah tangga sebagai percontohan.
Menerbitkan dan menyebarluaskan NSPM tentang teknologi pengolahan sampah tepat guna untuk masyarakat. Kegiatan ini dapat bekerjasama dengan Meneg-KLH dan Meneg-Riset dan teknologi.
Menerbitkan NSPM tentang teknologi pengolahan sampah teknologi tinggi untuk kalangan industri maupun Pemerintah Daerah. Kegiatan ini dapat bekerjasama dengan Meneg-KLH dan Meneg-Riset dan teknologi.
Membuat rancangan pola-pola insentif, seperti pengurangan kewajiban pajak bagi pihak-pihak industri yang berhasil mengolah sampahnya secara mandiri. Kegiatan ini dapat bekerjasama dengan Meneg-KLH; Meneg-Riset dan teknologi serta Dep.Keuangan cq. Dinas pajak.
Membuat rancangan pola-pola disinsentif, yang dapat berupa denda atau penyegelan tempat usaha bagi pihak yang melanggar ketentuan persampahan. Kegiatan ini dapat bekerjasama dengan Meneg-KLH.
Memfasilitasi terbentuknya badan-badan kerjasama antar daerah dalam bidang pengelolaan sampah
Sumber : Pusat Pengolahan Data (PUSDATA) DepartemenPekerjaan Umum Republik Indonesia
1 comment November 10, 2008
Jalan 10.000 Langkah Mencegah Osteoporosis
Sejalan dengan visi Departemen Kesehatan “Masyarakat Yang Mandiri Untuk Hidup Sehat”, mari bersama-sama cegah osteoporosis dengan aktifitas fisik yang mudah, murah, dapat dilakukan siapa saja, kapan saja, dimana saja dengan berjalan kaki terutama pagi dan sore hari.
Osteoporosis atau keropos tulang dapat dicegah dengan mengkonsumsi nutrisi berkalsium tinggi dan aktivitas fisik dengan beban. Ketika berjalan, tulang menopang berat tubuh kita sendiri sehingga melatih tulang tetap kuat dan padat. Selain itu, berjalan kaki minimal 10.000 langkah sehari juga dapat menjaga keseimbangan dan mengurangi risiko terjatuh, membantu mencegah risiko patah tulang dan osteoporosis.
Hal itu disampaikan Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) pada acara puncak peringatan Hari Osteoporosis Nasional tanggal 2 November 2008 di Monas Jakarta. Dalam acara yang direncanakan dihadiri Presiden dan Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono, Ny. Mufidah Jusuf Kalla itu akan diisi kegiatan jalan kaki 10.000 langkah dengan rute Monas, bunderan HI dan kembali ke Monas. Diikuti 10.000 peserta dari berbagai organisasi, pelajar/mahasiswa, karyawan dari berbagai instansi dll.
Kegiatan berjalan kaki 10.000 langkah ini akan dilakukan juga oleh masyarakat di Banjarmasin, Tasikmalaya, Cirebon, Sukabumi, Denpasar, Lombok dan kota-kota lainnya.
Osteoporosis adalah kondisi dimana tulang menjadi tipis, rapuh, keropos dan mudah patah akibat berkurangnya massa tulang, khususnya kalsium. Osteoporosis biasanya didahului dengan osteopenia yaitu kondisi dimana massa tulang mulai menurun. Kekurangan kalsium merupakan penyebab utama osteoporosis. Berbagai studi menyimpulkan bahwa asupan kalsium orang Indonesia dewasa sangat kurang dari kebutuhan tubuh, yaitu berkisar antara 270-300mg/hari, sementara jumlah yang dianjurkan adalah 1000-1200 mg/hari.
Menurut Menkes, osteoporosis adalah penyakit yang dijuluki sebagai silent epidemic diseases, karena menyerang secara diam-diam tanpa adanya tanda-tanda khusus sampai penderita patah tulang. Meningkatnya kejadian osteoporosis disebabkan meningkatnya usia harapan hidup dan tingginya pajanan faktor risiko seperti rendahnya konsumsi kalsium rata-rata masyarakat Indonesia sebesar 254 mg/hari hanya seperempat standar internasional yaitu 1000-1200 mg/hari untuk orang dewasa. Selain itu juga dikarenakan kurang aktivitas fisik, kurangnya paparan sinar matahari pagi dan sore, kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol.
Berdasarkan hasil Analisis Data Risiko Osteoporosis oleh Puslitbang Gizi Depkes bekerja sama dengan Fonterra Brands Indonesia yang dipublikasikan tahun 2006 menyatakan, 2 dari 5 orang Indonesia memiliki risiko osteoporosis. Angka ini lebih tinggi dari prevalensi dunia, dimana 1 dari 3 orang berisiko osteoporosis, ujar dr. Siti Fadilah.
Hal ini juga didukung oleh Indonesian White Paper yang dikeluarkan Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (Perosi) pada tahun 2007, osteoporosis pada wanita di atas 50 tahun mencapai 32,3% sementara pada pria di atas 50 tahun mencapai 28,8%. Selain itu terdapat data yang dikeluarkan International Osteoporosis Foundation (IOF) bahwa diprediksikan pada tahun 2050 sebanyak 50% kasus patah tulang panggul akan terjadi di Asia.
Hari Osteoporosis Nasional tahun 2008 diperingati dengan tema ”Berdiri Tegak, Bicara Lantang”, dilakukan Depkes bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti organisasi profesi (Perosi, organisasi profesi dokter yang seminat dalam osteoporosis, Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia /Perwatusi) organisasi masyarakat (non profit) yang melakukan sosialisasi osteoporosis ke berbagai lapisan masyarakat dan swasta (Fonterra Brands Indonesia).
Hari Osteoporosis Nasional (HON) diperingati setiap tanggal 20 Oktober, namun program kampanye diperluas menjadi satu bulan penuh, untuk meningkatkan jangkauan kampanye supaya lebih intensif dan luas. Sementara kampanye HON telah dilakukan sejak tahun 2002 dimana saat itu merupakan pencanangan pertama kampanye tentang osteoporosis oleh Menteri Kesehatan. Program HON dari tahun ke tahun merupakan kerjasama dari Depkes, Perosi, Perwatusi, dan Fonterra Brands Indonesia.
Sumber : depkes.go.id
Add comment November 7, 2008
