Sikap (attitude)
Oktober 13, 2008
Oleh : Hendra Arif
1) Pengertian
Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulasi atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. (Notoatmodjo, 2003).
2) Fungsi
Menurut Widayatun, TR (1999: 223) ada 8 fungsi sikap yaitu: sebagai instrumental; pertahanan diri; penerima objek, ilmu, serta memberi arti; nilai ekspresif; social adjustment; eksternalisasi; aktifitas adaptif dalam memperoleh informasi; reflek kehidupan.
Menurut Katz (1960) dikutip dalam Maramis, Willy F. (2006: 257) sikap mempunyai 4 fungsi yaitu:
a) Fungsi penyesuaian
Suatu sikap dapat dipertahankan karena mempunyai nilai menolong yang berguna; memungkinkan individu untuk mengurangi hukuman dan menambah ganjaran bila berhadapan dengan orang-orang di sekitarnya. Fungsi ini berhubungan dengan teori proses belajar.
b) Fungsi pembelaan ego
Fungsi ini berhubungan dengan teori Sigmund Freud, yang menjelaskan bahwa sikap itu “membela” individu terhadap informasi yang tidak menyenangkan atau yang mengancam, kalau tidak ia harus menghadapinya.
c) Fungsi ekspresi nilai
Beberapa sikap dipegang seseorang karena mewujudkan nilai-nilai pokok dan konsep dirinya. Kita semua mengganggap diri kita sebagai orang yang seperti ini atau itu (apakah sesungguhnya demikian atau tidak adalah soal lain); dengan mempunyai sikap tertentu anggapan itu ditunjang.
d) Fungsi pengetahuan
Kita harus dapat memahami dan mengatur dunia sekitar kita. Suatu sikap yang dapat membantu fungsi ini memungkinkan individu untuk mengatur dan membentuk beberapa aspek pengalamannya.
3) Ciri-ciri Sikap
Sikap merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang dapat mendorong atau menimbulkan perilaku yang tertentu. Walaupun demikian sikap mempunyai segi-segi perbedaan dengan pendorong-pendorong lain yang ada dalam diri manusia itu.
Menurut Gerungan, W.A (2002: 151-152) ciri-ciri sikap adalah:
a) Sikap bukan dibawa orang sejak ia dilahirkan.
b) Sikap itu dapat berubah-ubah.
c) Sikap itu tidak berdiri sendiri.
d) Objek sikap itu dapat merupakan satu hal tertentu.
e) Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan.
Menurut Sobur, Alex (2003: 355) ciri khas dari sikap adalah:
a) Mempunyai objek tertentu (orang, perilaku, konsep, situasi, benda, dsbnya).
b) Mengandung penilaian (suka-tidak suka; setuju-tidak setuju).
4) Tingkatan Sikap menurut Notoatmodjo (2007: 144)
a) Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
b) Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
c) Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
d) Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi.
5) Komponen Pokok Sikap
Benyamin Bloom (1908) dikutip dalam Notoadmodjo (2007: 139) membagi perilaku manusia itu ke dalam 3 domain, ranah atau kawasan yakni: a) kognitif (cognitive), b) afektif (affective), c) psikomotor (psychomotor).
Menurut Saiffudin, Azwar (2003: 24-27) sikap terbentuk dari 3 komponen yaitu:
a) Komponen kognitif (cognitive)
Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku bagi objek sikap.
b) Komponen afektif (affective)
Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap.
c) Komponen perilaku (behaviour/conative)
Dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya.
Dalam bagian lain Allport (1954) dikutip dalam Notoadmodjo, (2007: 143) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yaitu:
a) Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
b) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
c) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).
Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. (Notoadmodjo, 2007: 143).
6) Pembentukan sikap menurut Saiffudin, Azwar (2003: 30)
Sikap sosial terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu. Interaksi sosial mengandung arti lebih daripada sekedar adanya kontak sosial dan hubungan antar individu sebagai anggota kelompok sosial.
Dalam interkasi sosial, terjadi hubungan saling mempengaruhi di antara individu yang satu dengan yang lain, terjadi hubungan timbal balik yang turut mempengaruhi pola perilaku masing-masing individu sebagai anggota masyarakat. Lebih lanjut, interaksi sosial ini meliputi hubungan antara individu dengan lingkungan fisik maupun lingkungan psikologis di sekelilingnya.
7) Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
Menurut Saiffudin, Azwar (2003: 30-36) faktor-faktor yang mempengaruhi sikap adalah:
a) Pengalaman Pribadi.
Apa yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap, untuk dapat mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan objek psikologis.
b) Pengaruh Orang Lain yang Dianggap Penting
Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seseorang yang kita anggap penting, atau seseorang yang berarti khusus bagi kita, akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu.
c) Pengaruh Kebudayaan
Kebudayaan di mana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Tanpa kita sadari, kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita terhadap berbagai masalah.
d) Media Massa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
e) Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Lembaga pendidikan dan lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu., pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
f) Pengaruh Faktor Emosional
Tidak semua bentuk sikap yang ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.
Menurut Widayatun, TR (1999: 223) faktor-faktor yang mempengaruhi sikap individu adalah:
a) Faktor Intrinsik, meliputi: kepribadian, intelegensi, bakat, minat, perasaan serta kebutuhan dan motivasi seseorang.
b) Faktor Ekstrinsik, meliputi: faktor lingkungan, pendidikan, ideologi, ekonomi, politik dan hankam.
Sedangkan menurut.Gerungan, W.A (2002: 155-156), faktor-faktor yang memegang peranan dalam pembentukan dan perubahan sikap adalah:
a) Faktor Intern.
Di dalam diri pribadi manusia itu, yakni selektivitasnya sendiri, daya pilihnya sendiri, atau minat perhatiaannya untuk menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar dirinya itu. Dan faktor-faktor intern itu turut ditentukan pula oleh motif-motif dan sikap lainnya yang sudah terdapat dalam diri pribadi orang itu.
b) Faktor ekstern
Antara lain: sifat, isi pandangan baru yang ingin diberikan itu, siapa yang mengemukakannya dan siapa yang menyokong pandangan baru tersebut, dengan cara bagaimana pandangan itu diterangkan, dan dalam situasi bagaimana sikap baru itu diperbincangkan (situasi interaksi kelompokkah, situasi orang sendiriankah, dll).
Cara Mengukur Sikap
Skala pengukuran sikap oleh Likert (Gable, 1986) dikutip dalam (Saiffudin, Azwar 2003: 139-140) merupakan metode penskalaan pernyataan sikap yang menggunakan distribusi respons sebagai dasar penentuan nilai skalanya. Dalam pendekatan ini tidak diperlukan adanya kelompok panel penilai (judging group) dikarenakan nilai skala setiap pernyataan tidak akan ditentukan oleh derajat favorabelnya masing-masing akan tetapi ditentukan oleh distribusi respons setuju atau tidak setuju dari sekelompok responden yang bertindak sebagai kelompok uji-coba (pilot study).
Untuk melakukan penskalaan dengan metode ini, pernyataan sikap telah ditulis berdasarkan kaidah penulisan pernyataan akan didasarkan pada rancangan skala yang telah ditetapkan. Responden akan diminta untuk menyatakan kesetujuan atau ketidaksetujuannya terhadap isi pernyataan dalam lima macam kategori jawaban, yaitu :sangat tidak setuju” (STS), “tidak setuju” (TS), “tidak dapat menentukan” atau “entahllah” (E), “setuju” (S), dan “sangat setuju” (SS)
Sumber :
1. Notoatmodjo,Soekidjo (1997). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta
2. Notoatmodjo, Soekidjo (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
3. Taufik, M (2007). Prinsip –Prinsip Promosi Kesehatan Dalam Bidang Keperawatan. Jakarta : CV. Infomedika
4. Saiffudin, Azwar. (2003). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya Edisi Ke 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
5. Gerungan, W.A. (2002). Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama
6. Widayatun, Tri Rukmi. (1999). Ilmu Prilaku. M.A. 104. Fajar Interpratama.
7. Sobur, Alex. (2003). Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia
8. Maramis, Willy. F. (2006). Ilmu Perilaku Dalam Pelayanan Kesehatan. Surabaya: Universitas Airlangga
Entry Filed under: Kesehatan. .

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed